PENDIDIKAN MENURUT IBN THUFAIL
(PERSPEKTIF TEORI TAXONOMY BLOOM)
M.
HADI MASRURI, MA
Pendahuluan
Kisah Hayy bin Yaqzhan adalah novel allegoris karya monumental filosof
Islam abad pertengahan Ibn Thufail (508-581 H/1110-1185 M), yang merupakan
kristalisasi pandangan-pandangan falsafatinya tentang konfigurasi antara rasio
(al-‘aql) dan intuisi (al-dzauwq). Ibn Thufail dalam Hayy bin
Yaqzhan pada dasarnya hendak menyelaraskan dua model pemikiran (mode of thought) yang saling berbeda,
model pemikiran filsafat yang di dalam memandang sesuatu hanya berdasarkan
kekuatan akal murni (pure reason)
melalui penelitian diskursif (al-nazhar
al-‘aqli) dan model pemikiran tasawuf yang lebih bersifat intuitif (al-dzawqi) yangdi dalam mencapai
kebenaran sejati (al-yaqin) melalui
proses olah spiritual (al-riyadlah),
rasa (al-dzawq) dan penglihatan batin (al-musyahadah)
sehingga diperoleh pengetahuan (al-Kasyf
wa al-ma’rifah).
Kedua model pemikiran itu menyatu
dalam pribadi al-mutawahhid (Hayy bin
Yaqzhan) sebagai filosof sufi illuminasionis, yang di dalam mencapai
pengetahuan tentang hakikat, bukan hanya melalui kekuatan akal murni, melainkan
juga dengan cara penglihatan batin (al-Kasyf
wa al-musyahadah), sehingga diperoleh penyinaran (isyraq) cahaya (al-nur)
dari alami immateri Tuhan sebagai wajib
al-wujud. Hal inilah yang menjadikan Ibn Thufail lebih dekat ke filsafat
illuminasi (al-falsafat al-isyraqiyah).
Jalan memperoleh pengetahuan berikut
tahapan-tahapan yang ditempuh Hayy bin Yaqzhan di dalam melakukan spiritual
inilah sebenarnya, justru mengandung aspek-aspek fundamental dan pendidikan,
baik pada ranah kognitif (al-‘aqliyyah),
afektif (al-khuluqiyyah al-ruhaniyyah),
maupun psikomotik (al-‘amaliyyah),
yang dalam perspektif Ibn Thufail menentukan bentuk dan polanya yang khas,
adalah hal jarang disentuh para pemerhati dan peneliti filsafat Ibn Thufail
pada umumnya.
Untuk itu, kajian ini bermaksud
menelusuri pokok-pokok pemikiran kependidikan dalam filsafat Ibn Thufail
melalui kajian analisis novel Hayy bin
Yaqzhan perspektif teori taxonomy Bloom.
Setting Historis Pemikiran Filsafat
Sebelum dan di Masa Ibn Thufail
Mengetahui latar belakang sosial
politik menjadi sangat penting, sebelum menentukan corak pemikiran (mode of though) seseorang, apalagi
seperti tokoh sebesar Ibn Thufail, karena sebuah pemikiran apapun merupakan
produk budaya (al-muntaj al-tsaqafi)
dari sebuah masyarakat, dimana seseorang hidup, tumbuh dan dibesarkan. Dunia
para islam (al-magrib al-islami), yang Cordova (al-Qurthubah) sebagai ibu kotanya dimasa
kekuasaan pada abad pertengahan, oleh banyak kalangan dianggap sebagai pusat
peradaban yang telah mampu melahirkan tokoh-tokoh besar islam seperti, Ibn
Rusyd, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Ibn Masarrah, Ibn al-‘Arabi, Ibn Hazm,
al-Syathibi, dan sejumlah tokoh pemikir lainnya, yang menurut Muhammad, Abid
al-Jabiri, telah berhasil membangun sebuah tradisi nalar kritis (al-‘aql al-naqdi) yang dikembangkan
diatas dasar struktur berfikir demonstratif (nizham al-‘aql al-burhani), yang kemudian dikenal dengan
epistemology al-burhani.
Maka, yang menjadi pesoalan adalah
bagaimana situasi yang sebenarnya, sehingga Cordova berubah menjadi pusat
peradaban (al-Muntij al-tsaqafi),
yang mampu melahirkan beragam tradisi pemikiran: dogmatis (baca: syariat /
wahyu), rasionalis (filsafat Peripatetik), mistis (tasawuf) dan illuminis (Isyraqiyyah), dan bagaimana proses
transmisi ilmu pengetahuan (transmission
of sciences) dari dunia Islam Timur ke dunia Islam Barat. Kedua pertanyaan
diatas, paling tidak dapat dijadikan pijakan awal sebelum menentukan cause historis pemikiran filsafat tokoh
seperti Ibn Thufail, bahkan lebih dari itu, akan didapat jawaban kenapa Ibn
Thufail menggunakan metode kisah novel (melalui simbol-simbol) didalam
menuangkan pemikiran-pemikiran filsafatnya, yang kemudian muncul dalam wujud Hayy ibn Yaqzhan.
Andalusia (al-Andalus) sebelum dikuasai oleh bangsa Arab Islam (qabl al-fath al-Islami) berada dibawah
kekuasaan imperium Romawi sampai abad ke 5 Masehi. Meraka menduduki wilayah
Spanyol (al-Asbaniya) sampai datangnya
orang-orang Bar-bar (suku Iberia) dan berhasil menguasai Spanyol pada abad ke 6
Masehi. Mereka berinteraksi dengan penduduk setempat secara baik dan menjadikan
bahasa Latin tetap sebagai bahasa resmi negara, adalah hal yang menyebabkan
peradaban Romawi tetap eksis, sebagaimana mereka menjadikan agama Nasrani
sebagai agama resmi masyarakat. Meskipun kekuasaan bangsa Bar-bar itu tidak
berlangsung lama, yang disebabkan maraknya pertikaian internal politik, sampai
datangnya bangsa Arab.
Bangsa Arab berhasil menguasai
Andalusia tahun 92 Hijriah pada masa kekuasaasn Umayyah, ditangan Thariq ibn
Ziyad melalui selat Gibraltar, kemudian Qordova, Malaga, Granada, dan Toledo.
Kekuasaan Islam di Andalusia berlangsung secara turun temurun dan dikendalikan
dari Damaskus sebagai pusat pemerintahan, sampai datangnya al-Amir ‘Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah (dijuluki al-Dakhil), yang melarikan diri dari Syam, setelah dinasti Umawiyah
jatuh ketangan ‘Abbasiyyah pada tahun 138 Hijriah (750 M). Abd al-Rahman
al-Dakhil berhasil membangun imperiumnya yang mampu menandingi kejayaan dinasti
‘Abasiyyah di Baghdad yang kemudian dikenal dengan al-daulat al-umayyah fi al-Andalus (dinasti Umayyah di Andalusia
Spanyol), yang berkuasa selam 275 tahun, dan berakhir sepeninggal Hisyam al-Mutaqid bi Allah (w.427 H.),
tanpa mewariskan keturunan.
Kekuasaan kemuian diambil alih oleh Muluk al-Thaw’aif selam 50 tahun. Mereka
merupakan raja dari wilayah Andalusia yang telah terbagi-bagi, sampai datangnya
Yusuf ibn Tasyfin, yang kemudian mendirikan dinasti al-Murabithun pada tahun 484 Hijriah. Kekuasaan al-Murabithun itu
tidak berlangsung lama karena datangnya Muhammad ibn Tumart pada tahun 515
Hijriah (1121 M) dan berhasil menundukkan mereka, yang kemudian mendirikan
dinasti al-Muwahhidun. Ibn Tumart
digantikan oleh abd al-Mu’min ibn Ali (w.557 H.), yang kemudian digantikan oleh
abu Ya’qub Yusuf dan bergelar al-Manshur
(1163-1184 M.), beliaulah yang banyak mendorong kegiatan berfilsafat termasuk
pada ibn Thufail (1110-1185 M.) dan ibn Rusyd (1126-1198 M.), sampai digantikan
oleh puteranya Abu Yusuf Ya’qub (1184-1198 M), dimana terjadi mihnah Ibn Rusyd dan pelarangan terhadap
filsafat dan kegiatan berfilsafat.
Sementara itu, di dunia Islam Timur,
setelah terjadi gelombang transferensi-transmisi ilmu pengetaahuan melalui
gerakan penerjemahan dari berbagai bahasa, terutama Yunani ke dalam bahasa Arab
pada akhir abad ke 8, adalah hal yang menyebabkan tumbuh suburnya pengetahuan
yang meliputi semua cabang ilmu pengetahuan, termasuk logika dan filsafat,
sehingga muncul para filosof Islam, seperti al- Kindi (801-873 M.), al-Farabi
(870-950 M), dan Ibn Sina (980-1037 M.). Namun, dalam perjalan kurun
berikutnya, seiring dengan bergantinya khalifah ‘Abbasiyyah, pemikiran filsafat
kadang dilarang sama sekali, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang sesat dan zindiq, yang menyimpang dari agama
(syari’at).
Bahkan lebih dari itu, setelah
munculnya buku Tahafut al-Falasifah
karya al-Ghazali (w.1111 M.) yang dalam pandangan al-Ghazali bangunan pemikiran
para filosof Peripatetik (al-Masysya’iyyun),
terutama al-Farabi dan ibn Sina, sangat rancu dan rapuh, yang kemudian diikuti
oleh pelarangan khalifah yang berkuasa terhadap filsafat secara terus menerus,
maka gerkan filsafat di dunia Islam Timur stagnan sama sekali, bahkan tewas.
Kalau di dunia Islam Timur, pemikiran filsafat
mengalami pasang dan surut mengikuti riak gelombang politik pemerintah yang
sedang berkuasa, begitu juga halnya di dunia Islam Barat. Tumbuh kembangnya
ilmu pengetahuan selalu bergantung pada situasi sosial politik yang
mengitarinya, sebagaimana yang disinyalir ibn Kaldun. Maka, tatkala kekuasaan
Islam baru menampakkan geliatnya di Andalusia, kehidupan ilmu pengetahuan pada
umumnya, termasuk juga filsafat belum nampak semarak karena situasi politik
yang belum menentu. Maka tidak aneh jika dalam persoalan ilmu pengetahuan,
perhatian mereka hanya terbatas al Qur’an, al sunnah, fiqih dan bahasa, yakni
seperti yang diberitakan Sa’id al Andalusi berkisar pada ilmu-ilmu syariat
Islam dan bahasa. Dengan membaiknya situasi politik dan meluasnya kekuasaan
islam disemanjung Iberia itu, mereka mendirikan lembaga ilmu pengetahuan (majma al-‘ulum) di Qordova, dengan
menggunakan metode pengajaran, sebagaimana yang mereka lakukan di Timur,
meskipun yang dipelajari baru sedikit menyentuh ilmu kedokteran, logika,
filsafat, disamping tentu ilmu syari’at dan bahasa. Dan karena lembaga
pengetahuan itu tiodak lagi memadai menampung minat para penuntut ilmu, mereka
melakukan ekspedisi-ekspedisi ke dunia Islam Timur, dari Mesir, Syam, Hijaz,
dan Baghdad, bahkan sebagaimana yang dikutip Yusuf Musa, bahwa al-Maqirri
mencatat 304 biografi para ulama yang melakukan ekspedisi ke Timur, dan hanya
sedikit mereka yang memusatkan perhatiannya pada studi logika dan falsafat,
yakni 30 ulama dari kalangan filosof, sufi, dan para darwish.
Kehidupan pemikiran filsafat dan
ilmu pengetahuan pada umumnya baru menampakkan geliatnya secara lebih berarti
pada masa pemerintahan al-Hakam (bergelar al-Mustanshir
bi Allah, 961-976 M.), yang oleh
banyak kalangan dianggap sebagai masa kejayaan islam di Andalusia, bahkan
menurut De Boer peradapan yang dicapai dimasa al-Hakam lebih megah dan lebih
produktif ketimabang di dunia Islam Timur. Kegemaran al-Hakam terhadap
pemikiran filsafat, sebnarnya sudah muncul sejak usia belia dibawah bimbingan
ayahnya sang khalifah abd al-Rahman al-Dakhil,
maka tatkala al-Hakam memegang kekuasaan, ia rela mengeluarkan biaya besar
untuk tujuan ekspedisi pengetahuan ke berbagai negara, merupakan factor utama
yang menyebabkan kesukaan orang untuk mendalami buku-buku filsafat (kutub al-awa’il), bahkan al-Hakam
sendiri yang diceritakan Sya’id al Andalusi, lebih suka dipandang sebagai
seorang filosof (ahl al-Hikmah).
Lebih dari itu Andalusia, dimasa
pemerintahan al-hakam ini terjadi pergumulan tradisi agama dan peradaban dengan
sangat cemerlang, antara Yunani, Islam dan Kristen. Mereka tumbuh dalam satu
integritas sosial, yang meniadakan sekat-sekat golongan, ras, dan agama. Mereka
bahu-membahu dalam kajian ilmu pengetahuan dan bahasa, sehingga maksud Qordova
menjadi ajang penuntut ilmu dan pusat pengembangan pemikiran filsafat dan
pengetahuan.
Namun, masa keemasan dalam studi
filsafat dan pengetahuan di Andalusia, tidak berlangsung lama. Karena,
sepeninggal al-Hakam (w.976 M.), dan digantikan oleh puteranya Hisyam al-mu’ayyid bi Allah, yang
memegang kekuasaan di bawah usia sepuluh tahun, lebih condong ke pengetahuan
syariat dan anti kepemikiran filsafat. Hisyam memerintahkan bembakan
besar-besaran melalui tangan kanannya al-Hajib
al-Mansyur, terhadap semua khasanah pemikiran, termasuk filsafat, logika,
dan astronomi, kecuali kedokteran dan hokum, disamping tentu ilmu bahasa dan
syariat.
Maka, akibat pelarangan terhadap
filsafat itu, kehidupan pengetahuanpun menjadi stagnan kembali, bahkan para
filosof mendapatkan mihnah
(penyiksaan) yang tidak ringan, bahkan bisa meninggal di tiang gantungan.
Sebaliknya, hal itu menyebabkan kebodohan dan fanatik golongan (baca: mazhab)
di kalangan masyarakat awam, bahkan filsafat kembali dianggap sebagi sesuatui
yang sesat dan zindiq dan keluar dari
agama.
Adanya pelarangan terhadap filsafat
dan tekanan pada para filosof, pemikiran filsafat tidak berarti mati sama
sekali. Namun, para filosof itu tetap menjalankan kegemaran mereka mendalami
tradisi pemikiran Yunani, meskipun secara sembunyi-sembunyi bahkan sampai
kepada kawan akrab sekalipun, agar mereka senantiasa selamat dari siksaan (mihnah). Situasi yang tidak kondusif ini
terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama ditambah lagi situasi politik
yang tidak menentu, sampai berdirinya dinasti al-Muwahhidun oleh Abd al-Mu’min
ibn Ali (487-558 H.), meskipun masih dibawah tekanan masa awam. Seperti misalnya
Ibn Bajjah (w.533 H.). Filosof yang gemar ‘uzlah
(menyendiri) ini menurut al-Andalusi adalah satu-satunya filosof, yang selamt
dari siksaan dan amukan masa awam, meskipun beberapa kali usah pembunuhan.
Dalam situasi yang masih mencekam
inilah Ibn Thufail (506-581 H.) hidup, bahkan ia sempat belajar filsafat kepada
gurunya Ibn Bajjah. Dan, karena kedekatannya dengan kekuasaan, Ibn Thufail
sedikit leluasa didalam mengembangkan pemikiran filsafatinya, bahkan dimasa
khalifah abu Ya’qub Yusuf al-Mansyur (558-580 H.) yang memegang kekuasaan
sepeninggal ayahnya abd al-Mu’min, Ibn Thufail diangkat sebagai menterinya, dan
lebih dari itu Ibn Thufail-lah yang
merekomendasiakan filosof Ibn Rusyd melakukan syarh pemikiran filsafat Aristotle.
Meskipun kehidupan filsafat sudah
menampakkan geliatnya kembali dimasa Ibn Thufail hidup, namun hal itu masih
terbatas pada kalangan elite tertentu (khawashsh),
dan dalam pandangan masyarakat awam, filsafat belum mendapatkan tempatnya yang
nyaman. Dari sini dapat dipahami mengapa Ibn Thufail didalam menuangkan
pemikiran filsafatinya memilih memakai bahasa simbol dalam sebuah novel fiktif Hayy ibn Yaqzan, disamping tentu untuk
mengemas filsafat dalam bahasa yang lebih menarik sehingga mudah dipahami bagi
mereka yang hendak memasuki kehidupan belantara filsafat, seperti yang
dikatakannya sendiri di akhir kisahnya itu.
Ibn Thufail dan Latar
Belakang Pemikirannya
Ibn Thufail yang lengkapnya Abu
Bakar Muhammad ibn ‘Abd al;Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail dan
bergelar sebagai al-Andalusi, al-Qasyi, dan al-Qurtubhi ini lahir di kota Wadi Ash, sebuah kota yang subur
dekat kota Granada (Gharnathah). Ibn
Thufail kecil tidak banyak dicatat oleh sejarah, termasuk perjalanan pemikirannya
sejak ia masih muda. Sebagian sumber menyebutkan Ibn Thufail berguru pada
filosof Ibn Bajjah (w. 533 H.), namun seperti yang katakannya sendiri oleh Ibn
Thufail dalam pendahuluan risalahnya, bahwa ia sangat mengagumi Ibn Bajjah dan
mengakui kedalaman pengetahuan dan pemikirannya yang tajam, walaupun belum
pernah berjumpa dengannya secara face to
face.
Ibn Thufail memulai karir
profesionalnya sebagai dokter pemerintah di wilayah Granada. Kemudian diangkat
sebagai dinas rahasia pada masa pangeran Abu Sa’ad ibn Abd al-Mu’min, penguasa Sabtah (Ceuta) dan Thanjah (Tangier) pada pemerintahan dinasti al-Muwahhidun. Nama Ibn
Thufail kian mengharum saat Abu Ya’qub Yusuf al-Manshur menjabat sebagai
khalifah pada tahun 558 H. Ibn Thufail diangkat sebagai tabib istana sekaligus
menteri pada pemerintahan dinasti al-Muwahhidun. Pada tahun 578 H./1183M, Ibn
Thufail mengundurkan diri dari istana khalifah, dan kedudukannya digantikan
oleh Ibn Rusyd, yang kemudian menjadi filosof terbesar dalam sejarah filsafat Islam.
Ibn Thufail meninggal dunia pada tahun 581 H./1186 M. di Marakisy Maroko karena
lanjut usia, dan dikubur di sana.
Kedekatan Ibn Thufail dengan
penguasa dinasti al-Muwahhidun, khususnya khalifah al-Manshur yang dikenal
menggandrungi pengetahuan, membawa angin segar bagi dunia ilmu dan pemikiran
filsafat, karena di samping kedudukan Ibn Thufail sebagai tabib istana, juga
perhatiannya yang besar pada perkembangan pengetahuan, khususnya filsafat. Ibn
Thufail-lah yang mempromosikan Ibn Rusyd kepada khalifah al-Manshur dan
merekomendasikannya melakukan syarh
karya-karya filsafat Aristotle, sehingga Ibn Rusyd kemudian menggantikan
kedudukannya dan berhasil mengantarkan filsafat ke kedudukan paling tinggi
dalam sejarah filsafat islam.
Ibn Thufail sebenarnya, mempunyai beragam
karya, baik dalam bidang filsafat maupun fisika, dan sastra. Dari sejumlah
karya yang dinisbatkan kepadanya, di antaranya: kitab Risalah fi Asrar al Hikmat al-Masyriqiyyah (Hayy ibn Yaqzhan, Rasa’il
fi al-Nafs, Fi Biqa al-Maskunah wa al-Ghayr al-Maskunah, dan beberapa buku
tentang kedokteran, surat menyurat dengan Ibn Rusyd dalam berbagai persoalan
filsafat, bahkan Ibn Rusyd menyebutkan bahwa Ibn Thufail mempunyai teori-teori
yang cemerlang dalam ilmu falak. Namun, semua karya Ibn Thufail itu tidak ada
yang tersisa hingga kini, kecuali risalah Hayy
ibn Yaqzhan.
Hayy bin Yaqzan
Novel
Hayy bin Yaqzan yang sangat elegant telah menjadi pusat perhatian dunia, baik
dari kalangan cendikiawan dan filosof timur maupun barat, bahkan dipandang
sebagai kisah multi-dimensional, yang senantiasa memberikan pesona dan nuansa
tersendiri, jika dilihat dari berbagai aspeknya, sastra, filsafat, tasawuf,
iluminasi, etika, pengetahuan (epistimologi) dan yang lainnya, bahkan
ditempatkan sebagai karya kebanggaan
yang terbaik sepanjang sejarah filsafat Islam. Dan in Fact, kisah Hayy bin
Yaqzan telah sedikit banyak memberi Inspirasi (ilham) kepada banyak filosof dan
pemikir, baik barat maupun timur pada abad pertengahan, setidaknya hal itu
dapat dilihat melalui kisah Robinson Crusoe karya Daniel de Foe.
Tokoh
cerita dalam kisah ini diperankan oleh Hay bin Yaqzan yang merupakan
personifikasi akal manusia (Filsafat) serta asal (Absal) dan salaman sebagai
personifikasi wahyu, meskipun dalam dua Frame yang berbeda. Asal muncul sebagai
Ahl Al Bathin (tasawuf), sedangkan salaman tampil sebagai ahl al zhahir
(syariat). Hay bin Yaqzan dalam kisah ini sebagai seorang yang hidup serta
terasing disebuah pulau (kepulauan Saelan-India), tanpa orang tua, masyarakat,
bahasa, budaya, agama, maupun dinamika sosial lainnya, namun mampu tumbuh dan
berkembang, yang berakhir pada penemuan sebuah kebenaran tuhan sebagai sebab
pertama (first Cause) bagai adanya segala realitas (al-maujudat), yang disebut
ibn Thufail sebagai pengetahuan tentang hakikat (al haqoiq) yakni suatu
pengetahuan yang dicapai melalui penalaran akal murni (pure Reason), yang
dimulainya dari pengetahuan alam fisika menuju pengetahuan metafisika.
Pengetahuannya
tentang hakikat eksistensi lebih diyakininya setelah ia bertemu dengan Asal
(tokoh sufi) dari pulau seberang. Asal menceritakan segala pengalaman hidupnya
dan pengetahuannyayang ia peroleh berdasarkan wahyu nabi (agama), dan Hay bin
Yaqzan juga bercerita kepada Asal perihal pencapaiannya tentang pengetahuan
sejati melalui penalaran rasionya serta ketajaman Intuisinya. Dari dialog kedua
pemikiran itu, keduanya sampai pada titik persamaan tentang hakikat
pengetahuan. Hanya saja Hay bin Yaqzan memperolehnya melalui jalan rasio dan
intuisi, sedang Asal melalui jalan Wahyu, bahkan akhirnya keduanya berjalan
dalam dunianya masing-masing. Asala meneruskan Uzlahnya, sehingga memperoleh
al-Kasyf (penyingkapan batin, sementara Hay bin Yaqzan terus melanjutkan kontempelasinya sehingga
akhirnya tenggelam dan larut dalam
musyahadah pada yang pencipta, sehingga mencapai penyinaran cahaya (isyraq)
dari esensinya.
Ibnu
Thufail mengisahkan kelahiran tokoh Hay bin Yaqzan dalam novel ini dalam dua
versi: pertama, Hay bin Yaqzan terlahir seperti kebanyakan manusia dilahirkan ,
yakni oleh seorang ibu, yang secara kebetulan adalah saudara kandung seorang
raja disalah satu pulau di kepulauan India, dibawah garis katulistiwa. Ayahnya
adalah kerabat dekat Ibunya, bernama yaqzhan. Ibunya telah menikah dengannya
secara sembunyi, karena ditentang oleh saudara kandungnya-sang raja. Ketika
ibunya melahirkan, hayy diletakkan dalam sebuah peti dan dilemparkan ke laut,
agar tidak diketahui oleh sang raja, karena takut akan ancaman dan siksaannya.
Peti, yang berisi sang jabang bayi Hay bin tersebut akhirnya Yaqzan terdampar
disebuah pulau seberang yang bernama pulau al- Waqwaq. Dan secara kebetulan datang
seekor rusa yang sedang mencari anaknya yang hilang. Rusa mendengan tangis sang
bayi dan mengira adalah anaknya yang hilang. Kemudian bayi tersebut disusuinya
dan diasuh.
Kedua
, hayy terlahir dengan sendirinya, malaui peroses pertumbuhan alam, yang berasal
dari segumpal tanah yang meragi diperut bumi di pulau al Waqwaq. Yakni melalui
proses peragian tanah. Tanah tersebut bergelembung yang terdiri dari dua bagian
yang dipisahkan oleh selaput yang sangat tipis, dan berisi sebuah zat udara
yang halus sekali, sebagai tempat
bersemayamnya ruh dari tuhan. Dari situlah tercipta sebuah emberio (janin),
yang mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi seorang bayi yang secara sepontanitas menangis,
karena merasa lapar. Akhirnya datanglah seekor rusa yang sedang mencari anaknya
yang hilang, kemudian bayi tersebut disusuinya dan diiasuh olehnya.
Namun
dari kedua teori kelahiran Hay bin Yaqzan, ibnu tufail nampaknya lebih
cenderung pada teori kedua, yang pada prinsipnya lebih merupakan eklektisasi
teori ilmiah dengan pandangan ibn sina, yang didasarkan pada teori emanasi,
yaitu kelahiran Hay bin Yaqzan dari peragian tanah, sehingga mempunyai
unsur-unsur yang memungkinkannya berproses menjadi sebuah materi, yang siap
menerima bentuk dari akal aktif, maka tanah yang telah berbentuk embrio itu
menjadi hidup, dan terus berproses secara alami pula, sehingga menjadi bayi
secara utuh, baik jasadnya, jiwanya, dan akalnya.
Hay
bin Yaqzan menurut ibn Tufail tumbuh dan berkembang dalam tujuh fase : pertama,
Fase dimana Hay bin Yaqzan disusui dan diasuh oleh seekor rusa, sampai berumur
tujuh tahun. Hay bin Yaqzan dalam fase ini belajar menirukan suara-suara
binatang , dan mampu menguasainya, serta belajar bagaimana menutup auratnya,
dan menggunakan tongkat untuk membela
dirinya dan mempertahankan makanannya. Fase kedua, dimulai setelah kematian
ibunya sang rusa. Hayy membedah jasad ibunya, untuk mengetahui penyebab
kematiannya. Hayy, yang sejak lahir mempunyai kekuatan lebih didalam ingatan,
pengamatan, perasaan, naluri, dan mampu membedakan segala sesuatu, maka dengan
membedah jasad ibunya, hayymelalui indra dan pengalamannya mampu mengenali
seluruh bagian anggota tubuh, sekaligus mengetahui fungsinya masing-masing.
Pada
fase ketiga, hayy menemukan api dan mengetahui bagaimana mendapatkan dan
memamfaatkannya, dan akhirnya sampai pada kesimpulan akan adanya ruh hewani
dalam setiap tubuh. Fase keempat adalah fase, dimana hayy mengamati segala
sesuatu yang ada di alam kejadian dan kerusakan. Hay bin Yaqzan mengetahui
adanya satuan dan bilangan di dalam jasad dan ruh, serta meyakini bahwa segala
sesuatu esensinya sama, meskipun bentuknya berbeda, ada yang kuat dan ada yang
lemah. Akhirnya hayy meneliti segala yang hidup dan mengerti sebab dan asal
kehidupan. Fase ini berkhir saat hayy berumur dua puluh delapan.
Dalam
fase kelima hayy mulai meneropong angkasa luar dan mengamati planet dan kosmos.
Hayy menyakini bahwa semuanya itu adalah suatu benda yang pada saanya akan
berkhir dalam lingkaran bola kosmos. Penelitiannya tentang kosmos menggiring
hayy pada pengetahuan tentang kekidaman dan kehudutan alam semesta. Pada saat
umur hayy memasuki tahun ketiga puluh lima, hayy sampai pada kesimpulan bahwa
nyawa adalah sesuatu yang terpisah dari badan, dan keduanya mempunyai karakter
yang berbeda. Jiwa mempunyai kecendrungan senantiasa rindu pada sang khaliq
wajib al Wujud. Jiwa bersifat abadi dan keabadianyalah yang dapat mengetahui
wajib al Wujud dan jika tidak, jiwa dapat menjadi fana’ (tiada). Dari sini Hay
bin Yaqzan sampai pada pengetahuan tentang rahasia kebahagiaan.
Fase
ketujuh dimulai pada saat hayy menyakini bahwa kebahagiannya dan keselamatannya
dari kesengsaraan adalah terletak pada musyahadah sang khaliq secara terus
menerus, yang tercapai melalui tiga jalan, dimana hayy lebih Intens pada jalan
yang ketiga, yakni jalan untuk dapat mencapai musyahadah dan tenggelam secara
total pada wajib al wujud. Dalam keadaan itu, hayy telah merasakan ketiadaan
dirinya, tenggelam dalam fana dan merasa mengawang. Hayy mulai mengatur
kehidupan dirinya dengan berbagai norma aturan dan batasan, untuk senantiasa
dapat mengekang hawa nafsu dan kebutuhan jasmaniyahnya, kemudian menirukan
bagaimana benda-benda langit bergerak. Hayy mengintari pulau sebagaimana
benda-benda kosmos beredar, kemudian menghayati peredaran benda-benda langit
itu dalam dirinya, sampai hanyut dalam penghayatannya. Hayy mencoba
membersihkan diri, setelah mengetahu bahwa benda-benda langit itu bercaya,
sehingga memungkinkannya terus tenggelam dalam berfikir tentang tentang sang khaliq,
sekaligus melepaskan diri dari segala yang dapat dirasa, ia pejamkan matanya
dan menutup telinganya, untuk dapat menguatkan daya intuisinya dan berusaha
sedapat mungkin untuk tidak memikirkan selain dzatnya. Dengan cara menghayati
‘peredaran’ dalam dirinya, hayy merasakan bahaw dzatnya adalah dzatnya, dan
hampir perasaan ini selalu meliputi dirinya, sampai ia merasa samar akan
dzatnya sendiri. Dan, karena rahmat-nya jua, akhirnya hayy menyakini bahwa
dzatnya berbeda dengan dzatnya. Hayy terus tenggelam dalam perenungannya
sehingga memudahkannya hanyut dalam
musyahadah, kapan saja dan dimana saja.
Hay
bin Yaqzan tetap berada dalam maqamnya yang mulia itu sampai berumur lima puluh
tahun, dan pada saat itu hayy secara kebetulan bertemu Asal yang datang dari
pulau seberang untuk melakukan uzlah guna mencari hakikat syariat yang
diyakininya. Hayy menikmati pertemuan itu, setelah menyakini bahwa Asal adalah
manusia serupa dengannya, dan akhirnya mereka berteman. Asal mengajari Hayy
berbahasa, membaca dan menulis, agar keduanya dapat saling berkomunikasi dan
menceritakan kehidupan dan pengalamannya, dan bagaimana mereka sampai pada
pengetahuan melalui jalan indra, pengalaman, dan daya akal, serta bagaimana
mereka sampai pada hakikat tentang sebab kejadian alam, jiwa beserta
spiritualitas dan keabadiannya, dan semua itu sejalan dengan apa yang dikandung
didalam syariat. Asal kemudian juga menceritakan sahabatnya yang bernama
salaman sang raja di pulau seberang, yang menganut agama para nabi. Salaman
senantiasa berpegang pada tekstualitas syariat dan enggan melakukan ta’wil,
serta anti tasawuf dan perenungan batin, salaman lebih senang berbaur dengan
masyarakat ketimbang ber uzlah. Hal inilah yang menyebabkan Asal dana salaman
berpisahm dan keduanyaenjoy dalam dunianya masing-masing. Berbeda dengan hayy,
Asal merasa cocok dengannya, meskipun jalan keduanya berbeda, namun keduanya
sampai pada hakikat yang sama. Asal sempat mengajak hayy untuk sama-sama pergi
ke pulau seberang untuk mengajak mereka menempuh jalan menuju hakikat yang
melampau batas-batas syariat, tanpa mengurangi sedikitpun kandungannya, dan
mengurangi kelezatan cinta yang dapat menghantarkan mereka senantiasa dekat
dengan Allah dan tenggelam padanya. Namun kenyataaannya, mereka tidak seperti
yang mereka berdua bayangkan, dan hal ini semakin meyakinkan hayy dan Asal
bahwa manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda di dalam menangkap dan
memahami kebenaran.
Akhirnya
mereka berdua kembali ke pulau, dimana hayy tinggal. Dan keduanya kembali
tenggelam dalam musyahadat al-Haqq, melalui caranya masing-masing sampai
mencapai hakikat kebenaran.
METODE
PENGETAHUAN PERSPEKTIF TEORI TAXONOMY BLOOM
Kisah
Hayy ibn Yaqzhan oleh banyak kalangan
dipandang sebagai gambaran tentang perkembangan pengetahuan manusia (tathawwur al-ma’rifah al-insaniyyah).
Perjalanan Hayy di dalamn
memperoleh pengetahuan sebenarnya
merupakan proses pengembangan diri menuju tingkat kesempurnaan, yakni sebuah
proses belajar yang sangat panjang, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang
dijalaninya. Proses belajar ini dalam perspektif Taxonomy Bloom dapat dibedakan menjadi tiga ranah, yaitu:
1.
Ranah Kognitif (Cognitive)
Ranah kognitif merupakan aspek yang berkaitan dengan
kemampuan berpikir, kemampuan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan,
pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan, dan penalaran.
Dalam konteks ini, Hayy membangun pengetahuan di atas metode penalaran diskursif (al-ilm al-nazhari), yang dalam
perspektif taxonomy bloom dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a.
Pengamatan (al-furjah
wa al-muqarabah), Observasi (al-Baht),dan
Penelitian (al-nazar)
Metode pengamatan, observasi, dan penelitian ini
digunakan Hayy secara bersama-sama untuk mengamati fenomena alam disekitarnya
dari segala benda, bebatuan, juga tumbuh-tumbuhan, berikut karakter
masing-masing.
b.
Komparasi (al-Muqaranah),
Analogi (al-Qiyas), dan Deduksi (al-Istintaj)
Metode komparasi, analogi, deduksi ini digunakan
Hayy untuk membedah jasad Ibunya yang seekor rusa, serta penelitiannya pada
seluruh benda yang ada di dalam materi, sehingga ia berhasil mengetahui sifat
dan tabiat, yang kemudian diketahui sebagai hukum alam dan kausalitas
(al-sababiyah), yang membawanya pada kesimpulan bahwa segala yang ada itu
terdiri dari empat elemen atau unsur (al-usthuqsat). Pokok: air, tanah, udara,
dan api.
c.
Eksperimen (al-Tajribah)
Metode eksperime digunakan Hayy untuk menemukan Api
serta fungsinya secara detail dan jitu. Berdasarkan pengalaman dan
pengetahuannya justru Hay menjadi terampil berburu, bahkan terampil menunggangi
kuda yang telah dijinakkannya untuk dapat mengimbangi larinya binatang buruan.
d.
Penemuan (al-Iktisyaf)
Metode penemuan ini digunakannya untuk mengetahui
yang terkandung dalam benda, misalnya Hayy membedah jasad ibunya sang rusa yang
telah meninggal, sehingga mengetahui secara rinci seluruh bagian dan fungsi
seluruh bagian tubuhnya. Hayy juga berhasil menyingkap rahasia yang tersembunyi
dibalik jasad yang hidup, yakni adanya daya diluar jasadnya yang materi, yang
disebut sebagai ruh hewani, yang merupakan penggerak bagi kehidupan.
2.
Ranah Psikomotorik (Psychomotor)
Ranah psikomotorik merupakan aspek yang berkaitan
dengan kemampuan melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan, kemampuan
yang berkaitan dengan gerak fisik.
Hal ini dapat dilihat bagaimana Hayy banyak berlatih
keterampilansebagai corak pengembangan dan kematangan dirinya, misalnya setelah
Hayy mengetahui bahwa ikan yang dipanggang di atas api ternyata memberikan rasa
yang lebih lezat, adalah hal yang menyebabkan sering mencari ikan di laut
pantai dan berburu binatang di hutan belantara. Lebih dari itu, dapat
dijelaskan bahwa Hayy pada ranah ini menggunakan cara-cara sebagai berikut ini:
a.
Peniruan (al-Muhakat)
Peniruan adalah cara yang dilakukan sejak masih
kecil terhadap berbagai perilaku binatang dan benda-benda disekitarnya,
sehingga diperoleh kekuatan dan ketajaman indra, serta memiliki kekuatan nalar
yang tinggi, seperti halnya yang dilakukan untuk mempertahankan diri dari
serangan binatang buas, atau menutupi badanya dengan dedaunan sebagai pengganti
bulu, seperti yag dimiliki burung, bahkan sampai pada bagian mengubur jasad
ibunya seperti yang diceritakan dalam kitab suci tentang gagak.
Pengetahuan-pengetahuan itu kadang juga didapatkan
secara kebetulan, atau karena kebutuhan yang dirasakan dalam hidupnya, seperti
bagaimana Hayy menyimpan makanannya dan membuat rumah sebagai tempat
perlindungnnya.
b.
Penyerupaan (al-Tasyabbuh)
Metode ini digunakan Hayy di dalam mencapai derajat
tertinggi, yakni puncak kebahagiaan dalam ekstase total, yang memungkinkannya
melihat esensi tuhan. Dan manusia tidak akan mencapai derajat tertinggi ini,
kecuali senantiasa memikirkan dzat-Nya, serta membebaskan diri dari segala
pikiran tentang yang bersifat indrawi.
Untuk itu Hay ibn Yaqzhan, melakukan tahapan-tahapan
olah spiritual, yang dikenal sebagai tiga tahapan penyucian jiwa, melalui
penyerupaan siklus gerakan alam. Pertama,
penyerupaan terhadap perilaku binatang, yang hanya berjuang untuk memenuhi
kebutuhan jasmani. Kedua, penyerupaan
terhadap perilaku benda-benda angkasa, yang melambangkan sifat-sifat yang
tinggi dan terpuji serta mempunyai siklus yang teratur.hal ini lebih
memungkinkan untuk menerima persepsi spiritual dari tuhan, yaitu dengan
senantiasa menjaga kebersihan fisik, memeliharan kedisiplinan diri dan
keseimbangan dengan lingkungannya, serta menjauhi perilaku yang dapat
menyebabkan kerusakan. Peniruan ini dadapat mengantarkannya kepada derajat al-Musyahadah, meskiun masih diliputi
noda. Ketiga, penyerupaan terhadap
perilakutuhan, yang immateri, yang arif, yang bijak, dan semua sifat kemahaan
tuhan. Penyerupaan ketiga inilah, yang menurutnya dapat mencapai al-Musyahadah yang sebenarnya dan
tenggelanm secara totalpada yag Haqq.
3.
Ranah Afektif
Ranah afektif adalah aspek yang berkaitan dengan
perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu
obyek, adalah ranah yang lebih dalam dari ranah kedua ranah di atas, karena menyangkut
sikap, perasaan dan apresiasi Hayy terhadap lingkungan di sekitarnya.
Aktifitas Hayy pada ranah ini banyak dilakukannya
pada usia-usia matang dan senjanya, yakni tatkala Hayy larut di dalam
menghayati dan merenungi kehidupannya dan eksistensi dirinya, terutama seteleh
pertemuannya pada sang sufi Asal, yang kemudian membawanyabersinggungan dengan
komunitas masyarakat awam pada umumnya yang disimbolkan sebagai ahl al-zhahir (yang dalam novel ini
diperankan oleh salaman). Akhirnya Hayy berpandangan tentang keragaman
tingkatan manusia dan perbedaan kemampuan nalarnya. Adalah hal yang membawanya
kepada sikap lebih menghormati kepada sesama makhluk dan ciptaan tuhan sang
pencipta alam.






0 comments:
Posting Komentar